Penilaian dan penetapan angka kredit guru dilakukan paling kurang 1 kali dalam setahun. Untuk kelancaran penilaan dan penetapan angka kredit, guru wajib mencatat dan menginventarisasikan seluruh kegiatan yang dilakukan. Penilaian dan penetapan angka kredit untuk kenaikan pangkat guru yang akan dipertimbangkan untuk naik pangkat dilakukan paling kurang 2 kali dalam 1 tahun, yaitu 3 bulan sebelum periode kenaikan panGkat PNS.
Untuk itu guru PNS wajib mengajukan PAK tahunan untuk kepentingan naik jabatan dan naik pangkat. Guru PNS yang tidak memiliki PAK tahunan dipastikan tidak bisa naik jabatan maupun naik pangkat setingkat lebih tinggi. Pengajuan PAK tahunan meliputi kegiatan guru yang dilakukan dalam satu tahun, meliputi: (1) pendidikan, (2) pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, (3) pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah, karya inovasi, (4) penunjang tugas guru.
Pengajuan PAK tahunan disusun secara urut dari lampiran I sampai dengan lampiran V dan dilengkapi dengan bukti fisik yang ada. Lampiran I berupa daftar usulan pengajuan angka kredit (DUPAK), lampiran 2 berisi surat pernyataan melaksanakan tugas pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu yang ditandatangani atasan langsung. Lampiran III berisi surat pernyataan melaksanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan dan ditandatangani atasan langsung, lampiran IV berisi surat pernyataan melakukan penunjang tugas guru yang ditanda tangani atasan langsung, lampiran V penetapan angka kredit.
Utuk membuat PAK tahunan ini, seorang guru mampu mengerjakan sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Hali ini dilakukan agar guru bertanggung jawab atas nasibnya sendiri. Dalam penilaian PAK yang diajukan guru maka, seorang guru wajib menyertakan dokumen yang dimilikinya. Dokumen pendidikan guru harus melampirkan Ijazah yang diperolehnya dan/ atau surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan (STTPPP). Dokumen pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, maka guru harus menyiapkan SK pembagian tugas mengajar/membimbing. Pada bukti ini disertakan bukti penilaian kinerja guru (PKG) secara lengkap dan diskripsinya ditulis tangan untuk menghindari copy paste. Bukti tugas tertentu adalah SK tugas tertentu dan bukti fisik melaksanakan kegiatan. Dokumen pengembangan keprofesian berkelanjutan berupa pengembangan diri wajib membuat laporan pengembangan diri yang dilengkapi dengan surat tugas dan sertifikat/piagam. Publikasi ilmiah wajib melampirkan bukti melakukan publikasi ilmiah asli, baik PTK, Jurnal, Buku dll. Karya Inovatif yang diajukan wajib membuat laporan karya inovatif yang dibuat guru. Dokumen Penunjang tugas guru meliputi gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya, memperoleh penghargaan dan tanda jasa, melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru, wajib dilampirkan berupa ijazah, piagam penghargaan, SK dan bukti fisik yang mendukung tugas guru.
Selain bukti fisik ini, dalam pengajuan PAK tahunan juga dilengkapi dengan dokumen kepegawaian guru tersebut.
Sadimin (Tim Penilai Angka Kredit Prov.Jateng)
Sumber : http://sadimin.gurusiana.id/article/pengajuan-pak-tahunan-362748
Untuk Info Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Brebes Bidang Pembinaan Ketenagaan silahkan klik DISINI
Untuk Registrasi Kenaikan Pangkat Guru klik DISINI
Untuk Registrasi Usul Penilaian Angka Kredit Guru klik DISINI
Belum Pernah Naik Pangkat Sampai 01 Juli 2013 (pada PAK Lama)
klik DISINI
Sudah Pernah Naik Pangkat Mulai 02 Januari 2014 (pada PAK Baru)
klik DISINI
Ing ngarso sung tuladha Ing madya mangun karsa Tut wuri handayani "di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberikan daya kekuatan"
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Tuesday, 5 February 2019
Monday, 11 December 2017
PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN
A. Prinsip-prinsip Pembelajaran
Menurut Bruce Weil (1980) dalam Rusman (2015) ada tiga prinsip penting dalam proses pembelajaran, yaitu:
- proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk dan mengubah struktur kognitif siswa,
- berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan (fisis, sosial dan logika)
- dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial.
Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran dirasakan sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa dan diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari yang akan membangkitkan motivasi siswa.
- Motivasi intrinsik, adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Seorang siswa dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya.
- Motivasi ekstrinsik, adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukan tetapi menjadi penyerta. Contohnya siswa belajar sungguh-sungguh bukan karena ingin mempunyai pengetahuan yang dipelajarinya, tetapi karena ingin lulus ujian. Keinginan lulus ujian adalah penyerta dari keberhasilan belajar. Motivasi ekstrinsik terkadang dapat berubah menjadi motivasi intrinsik. Sebagai contoh, seseorang belajar di Fakultas Kedokteran karena menuruti kemauan orang tuanya. Tetapi setelah belajar beberapa waktu akhirnya ia menyenangi profesi sebagai dokter, sehingga ia belajar sungguh-sungguh untuk menguasai pengetahuan untuk menjadi dokter.
b. Prinsip Keaktifan
Pada hakekatnya belajar adalah merupakan proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan untuk mengubah perilaku dan pemikiran menjadi lebih baik. Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak mengalaminya sendiri. Guru sekedar membimbing dan mengarahkan. Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan jiwa yang aktif mengolah informasi, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu.
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik antara lain berupa kegiatan membaca, mendengar, menulis, berlatih ketrampilan-ketrampilan. Sedangkan kegiatan psikis antara lain, memecahkan masalah, menyimpulkan suatu percobaan.
c. Pinsip Pengalaman/ Keterlibatan secara langsung
Prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip keaktifan. Pada prinsip ini masing-masing individu haruslah terlibat langsung dengan merasakan dan mengalaminya. Menurut Edgar Dale (dalam Rusman, 2015) dalam pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalaman, belajar yang paling baik adalah belajar dari pengalaman langsung. Dengan belajar melalui pengalaman langsung maka siswa secara langsung dapat mengamati dan menghayati. Belajar dengan pengalaman secara langsung dapat menjadikan siswa belajar secara aktif, sehingga pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih bermakna.
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran dengan pengalaman langsung, tidak hanya keterlibatan secara fisik saja tetapi juga keterlibatan secara emosional. Dengan demikian adanya keterlibatan siswa secra emosional akan menumbuhkan pembentukan sikap dan nilai, misalnya siswa menjadi lebih bertanggung jawab.
d. Prinsip Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamati, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir dan yang lainnya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Walaupun ada beberapa pendapat yang tidak selalu sejalan bahwa belajar adalah melalui pengulangan, namun prinsip pengulangan masih relevan
sebagai dasar pembelajaran.
e. Prinsip Tantangan
Penerapan bahan belajar yang dikemas dengan lebih menantang dan mengandung permasalahan yang harus dipecahkan dapat mendorong para siswa merasa tertantang untuk terus mempelajarinya. Penggunaan model atau metode pembelajaran tertentu, misalnya discovey learning, metode eksperimen, metode inkuiri juga dapat memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan postif atau negatif juga akan membuat tantangan pada diri siswa sehingga menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran dan berusaha menghindari hukuman.
f. Prinsip Balikan dan Penguatan
Jika siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapat nilai yang baik, maka nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat menjadi operant conditioning atau penguatan positif. Nilai yang diperoleh siswa tersebut dapat sebagai suatu balikan dan penguatan bagi siswa. Dengan mengetahui hasil ulangannya, bagi siswa yang hasil ulangannya jelek akan terdorong untuk lebih giat lagi belajarnya, karena kemungkinan akan takut tidak lulus ujian. Pada siswa yang ulangan baik akan semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi.
g. Prinsip Perbedaan Individu
Tidak ada dua orang yang sama persis, tiap siswa mempunyai perbedaan satu dengan lainnya. Proses belajar masing-masing individu memang tidaklah sama, baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah didalam proses pembelajaran mengandung penerapan bahwa masing-masing siswa haruslah dibantu agar lebih memahami kelemahan serta kekuatan yang ada pada dirinya dan kemudian dapat mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, dengan kebiasaan-kebiasaan yang hampir sama. Oleh sebab itu pembelajaran klasikal cenderung mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada di antara para siswa. Untuk itu jika guru menggunakan pembelajaran klasikal, hendaknya antara lain menggunakan metode, model atau strategi
pembelajaran yang bervariasi, memberikan tugas yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing siswa, melaksanakan pengayaan bagi siswa yang sudah menguasai bahan pelajaran dan pembelajaran remedial bagi siswa yang belum mampu.
B. Implikasi Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bagi Siswa Sekolah Dasar
a. Prinsip Perhatian dan Motivasi
Implikasi dari prinsip perhatian, bahwa siswa harus memberikan perhatian terhadap semua hal yang mengarah pada tujuan belajar. Bagi siswa sekolah dasar, agar siswa dapat memberikan perhatian terhadap semua hal yang mengarah pada tujuan belajar, perlu bimbingan guru pada awalnya, misalnya agar terarik mempelajari materi ajar tertentu, guru perlu menjelaskan manfaat materi ajar tersebut dan memberi motivasi secara terus menerus.
Implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah ia harus berusaha membangkitkan motivasi belajar yang ada pada diri mereka secara terus menerus, terutama motivasi instrinsik. Salah satu untuk dapat membangkitkan motivasi secara terus menerus adalah harus mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menentukan target dari penyelesaian tugas belajar dan harus menyadari bahwa dengan kerja keras dan semangat yang kuat maka tujuan akan mudah tercapai, tugas-tugas belajar akan mudah diselesaikan.
b. Prinsip Keaktifan
Implikasi prinsip keaktifan siswa berupa perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan dalam belajarnya, melakukan kegiatan eksperimen, menyelesaikan tugas-tugas belajar.
c. Prinsip Keterlibatan langsung/ pengalaman
Implikasi dari prinsip keterlibatan langsung ini, siswa dituntut agar selalu menyelesaikan tugas belajar yang diberikan. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi dari prinsip keterlibatan langsung bagi siswa dapat berupa kegiatan diskusi, melakukan percobaan, membuat laporan dan jenis-jenis kegiatan lain yang memungkinkan siswa dapat merasakan secara langsung dalam proses belajarnya.
Implikasi dari prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang untuk satu macam permasalahan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan misalnya mengerjakan soal-soal latihan tentang perkalian dasar sehingga siswa menjadi mahir tentang operasi perkalian, menghafal nama-nama pahlawan nasional, menghafal pasal dan ayat di dalam UUD 45, menghafal tanggal suatu peristiwa sejarah.
e. Prinsip Tantangan
Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses dan mengolah setiap pesan yang ada pada kegiatan pembelajaran. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan diantaranya adalah kegiatan eksperimen, menyelesaikan permasalahan-permasalahan non rutin.
f. Prinsip Balikan dan Penguatan
Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi siswa adalah siswa akan semakin semangat dalam kegiatan belajarnya. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi dari prinsip balikan dan penguatan antara lain, segera mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban, menanyakan kepada gurunya tentang tugas-tugas yang telah dikerjakan, siap menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang diperolehnya dan siap menerima teguran baik dari guru maupun orang tuanya berkaitan dengan hasil yang telah diperolehnya.
Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi siswa adalah siswa akan semakin semangat dalam kegiatan belajarnya. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi dari prinsip balikan dan penguatan antara lain, segera mencocokkan jawabannya dengan kunci jawaban, menanyakan kepada gurunya tentang tugas-tugas yang telah dikerjakan, siap menerima kenyataan terhadap skor/nilai yang diperolehnya dan siap menerima teguran baik dari guru maupun orang tuanya berkaitan dengan hasil yang telah diperolehnya.
g. Prinsip Perbedaan individual
Implikasi dari perbedaan individu bagi siswa adalah adanya kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan yang lainnya. Dengan menyadari bahwa dirinya berbeda dengan yang lainnya siswa tersebut akan mencari cara terbaik untuk lebih mengoptimalkan hasil belajarnya.
Implikasi dari perbedaan individu bagi siswa adalah adanya kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan yang lainnya. Dengan menyadari bahwa dirinya berbeda dengan yang lainnya siswa tersebut akan mencari cara terbaik untuk lebih mengoptimalkan hasil belajarnya.
C. Implikasi Prinsip-Prinsip Pembelajaran bagi Guru
a. Prinsip Perhatian dan Motivasi
Implikasi prinsip perhatian dan motivasi bagi guru akan berupa perilaku-perilaku sebagai berikut: agar perhatian dan motivasi siswa menjadi lebih, guru perlu menggunakan model, metode yang bervariasi. Guru perlu menggunakan media pembelajaran yang tepat agar perhatian dan motivasi siswa menjadi meningkat dalam mempelajari bahan pembelajaran. Guru dapat memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan minat siswa, agar siswa tertarik untuk mempelajarinya. Guru selalu memberikan pujian baik secara verbal maupun non verbal. Dalam mengawali pembelajaran guru harus menjelaskan kepada siswa tentang manfaat materi yang dipelajari.
b. Prinsip Keaktifan
Implikasi dari prinsip keaktifan adalah guru harus berupaya agar pembelajaran yang dilakukan menyebabkan siswa aktif belajar baik secara fisik maupun psikis. Untuk dapat mengaktifan belajar siswa, maka guru melakukan perilaku-perilaku sebagai berikut: Guru harus dapat menggunakan berbagai macam model dan metode yang bervariasi dan juga harus menghadirkan multimedia yang tepat. Guru menyiapkan lembar kerja baik secara individual maupun kelompok agar membantu
siswa dalam mempelajari bahan pelajaran. Mengupayakan pembelajaran dengan melaksanakan kegiatan eksperimen, agar siswa dapat melakukan percobaan secara langsung dan dapat menghayati bahan pelajaran secara maksimal. Guru harus menyiapkan tugas-tugas baik dikerjakan di kelas maupun di luar kelas, dan sekaligus guru siap untuk membimbing siswa dengan tugas-tugas yang diberikan.
c. Prinsip Keterlibatan langsung
Perilaku sebagai implikasi dari prinsip keterlibatan langsung/pengalaman antara lain: Guru harus mementingkan kegiatan pembelajaran yang menyebabkan siswa melakukan kegiatan eksperimen dari pada hanya sekedar demonstrasi. Guru juga harus membatasi dirinya untuk menyampaikan bahan pelajaran dengan metode ceramah dan harus diupayakan siswa harus memperoleh pengetahuannya sendiri dengan menggunakan model-model yang memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Guru perlu menyiapkan media yang dapat dipraktekkan sendiri oleh siswa, misalnya alat peraga matematika, alat percobaan IPA atu yang lain.
d. Prinsip Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu mengidentifikasi bahan pelajaran yang membutuhkan pengulangan, misalnya latihan menggunakan cara bersusun kebawah dalam mengalikan bilangan ratusan, atau menghapal peribahasa dalam pelajaran bahasa Indonesia. Perilaku guru sebagai implikasi dari prinsip pengulangan antara lain, guru dapat merancang kegiatan-kegiatan pengulangan,
misalnya memberikan soal-soal yang sejenis. Mengembangkan soal-soal latihan yang terstruktur. Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik dan mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan.
e. Prinsip Tantangan
Guru perlu menyiapkan tantangan dalam bentuk kegiatan pembelajaran, bahan dan alat pembelajaran termasuk pula sistem penilaiannya. Perilaku guru sebagai implikasi prinsip tantangan antara lain adalah merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan siswa untuk tertantang melakukan kegiatan tersebut. Menyusun bahan pelajaran yang menarik dan bernuansa pemecahan masalah, sehingga siswa tertantang untuk mempelajari dan menyelesaikan permasalahan pada bahan pelajaran tersebut. Menggunakan media pembelajaran yang menyebabkan siswa untuk tertantang menggunakan media tersebut, misalnya guru meminta siswa menyelesaikan suatu soal matematika yang
cukup rumit, guru menyiapkan aplikasi matematika tertentu, sehingga dengan aplikasi matematika tersebut siswa tertantang untuk mencoba dan menggunakan dalam pernyelesaian soal tersebut.
f. Prinsip Balikan dan Penguatan
Balikan dan penguatan dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal. Guru dapat menentukan balikan dan penguatan yang tepat, baik dari segi waktu, cara maupun segi bentuk, dari suatu kegiatan pembelajaran. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru harus memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi dari prinsip balikan dan penguatan bagi guru, perilaku-perilaku yang dilakukan guru antara lain, perlu menyampaikan jawaban yang benar dari soal-soal yang diberikan
kepada siswa. Guru perlu memberi catatan-catatan pada hasil kerja siswa, baik secara individu maupun secara berkelompok. Catatan-catatan yang dimaksudkan dapat digunakan siswa sebagai petunjuk untuk melakukan pembetulan lebih lanjut dari pekerjaan yang salah. Guru juga wajib membagikan hasil kerja siswa yang telah direvisi. Guru juga perlu memberikan ganjaran bagi siswa yang berhasil menyelesaikan pekerjaan yang baik sebagai penguatan, baik berupa penguatan verbal ataupun non verbal.
g. Prinsip Perbedaan IndividualGuru harus menyadari bahwa semua siswa-siswa mempunyai keunikan masingmasing. Implikasi prinsip perbedaan individual ini diwujudkan dalam perilakuperilaku guru diantaranya, guru harus mau dan mampu mengenali karakteristik setiap siswanya, sehingga dapat menentukan pembelajaran yang tepat bagi siswa tersebut. Guru harus berusaha melayani setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya. Dalam kegiatan pembelajaran, garu harus mampu menggunakan teknik yang bervariasi sehingga diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya. Guru harus mampu merancang dan melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan bagi siswa-siswanya.
Klik juga artikel lainnya:
Baca juga: PUISI LAMA DAN PUISI BARU
Baca juga: TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Baca juga: Video Pembelajaran Kurikulum 2013 SD/MI Kelas 1-6
Baca juga: LATIHAN POST TEST KELAS BAWAH KK A PLUS ONLINE
Baca juga: LATIHAN ONLINE PKB MODUL B BAGIAN KE-2
Baca juga: Download Latihan Post Test PKB KKA Profesional
Baca juga: DOWNLOAD PROTA REVISI KELAS 5 SD
Baca juga: Download Contoh RPP REVISI 2017
Baca juga : DOWNLOAD RPP KELAS 5 SD/MI REVISI 2017
Baca juga: CEK NUPTK
Implikasi prinsip perhatian dan motivasi bagi guru akan berupa perilaku-perilaku sebagai berikut: agar perhatian dan motivasi siswa menjadi lebih, guru perlu menggunakan model, metode yang bervariasi. Guru perlu menggunakan media pembelajaran yang tepat agar perhatian dan motivasi siswa menjadi meningkat dalam mempelajari bahan pembelajaran. Guru dapat memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan minat siswa, agar siswa tertarik untuk mempelajarinya. Guru selalu memberikan pujian baik secara verbal maupun non verbal. Dalam mengawali pembelajaran guru harus menjelaskan kepada siswa tentang manfaat materi yang dipelajari.
b. Prinsip Keaktifan
Implikasi dari prinsip keaktifan adalah guru harus berupaya agar pembelajaran yang dilakukan menyebabkan siswa aktif belajar baik secara fisik maupun psikis. Untuk dapat mengaktifan belajar siswa, maka guru melakukan perilaku-perilaku sebagai berikut: Guru harus dapat menggunakan berbagai macam model dan metode yang bervariasi dan juga harus menghadirkan multimedia yang tepat. Guru menyiapkan lembar kerja baik secara individual maupun kelompok agar membantu
siswa dalam mempelajari bahan pelajaran. Mengupayakan pembelajaran dengan melaksanakan kegiatan eksperimen, agar siswa dapat melakukan percobaan secara langsung dan dapat menghayati bahan pelajaran secara maksimal. Guru harus menyiapkan tugas-tugas baik dikerjakan di kelas maupun di luar kelas, dan sekaligus guru siap untuk membimbing siswa dengan tugas-tugas yang diberikan.
c. Prinsip Keterlibatan langsung
Perilaku sebagai implikasi dari prinsip keterlibatan langsung/pengalaman antara lain: Guru harus mementingkan kegiatan pembelajaran yang menyebabkan siswa melakukan kegiatan eksperimen dari pada hanya sekedar demonstrasi. Guru juga harus membatasi dirinya untuk menyampaikan bahan pelajaran dengan metode ceramah dan harus diupayakan siswa harus memperoleh pengetahuannya sendiri dengan menggunakan model-model yang memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Guru perlu menyiapkan media yang dapat dipraktekkan sendiri oleh siswa, misalnya alat peraga matematika, alat percobaan IPA atu yang lain.
d. Prinsip Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu mengidentifikasi bahan pelajaran yang membutuhkan pengulangan, misalnya latihan menggunakan cara bersusun kebawah dalam mengalikan bilangan ratusan, atau menghapal peribahasa dalam pelajaran bahasa Indonesia. Perilaku guru sebagai implikasi dari prinsip pengulangan antara lain, guru dapat merancang kegiatan-kegiatan pengulangan,
misalnya memberikan soal-soal yang sejenis. Mengembangkan soal-soal latihan yang terstruktur. Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik dan mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan.
e. Prinsip Tantangan
Guru perlu menyiapkan tantangan dalam bentuk kegiatan pembelajaran, bahan dan alat pembelajaran termasuk pula sistem penilaiannya. Perilaku guru sebagai implikasi prinsip tantangan antara lain adalah merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan siswa untuk tertantang melakukan kegiatan tersebut. Menyusun bahan pelajaran yang menarik dan bernuansa pemecahan masalah, sehingga siswa tertantang untuk mempelajari dan menyelesaikan permasalahan pada bahan pelajaran tersebut. Menggunakan media pembelajaran yang menyebabkan siswa untuk tertantang menggunakan media tersebut, misalnya guru meminta siswa menyelesaikan suatu soal matematika yang
cukup rumit, guru menyiapkan aplikasi matematika tertentu, sehingga dengan aplikasi matematika tersebut siswa tertantang untuk mencoba dan menggunakan dalam pernyelesaian soal tersebut.
f. Prinsip Balikan dan Penguatan
Balikan dan penguatan dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal. Guru dapat menentukan balikan dan penguatan yang tepat, baik dari segi waktu, cara maupun segi bentuk, dari suatu kegiatan pembelajaran. Agar balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru harus memperhatikan karakteristik siswa. Implikasi dari prinsip balikan dan penguatan bagi guru, perilaku-perilaku yang dilakukan guru antara lain, perlu menyampaikan jawaban yang benar dari soal-soal yang diberikan
kepada siswa. Guru perlu memberi catatan-catatan pada hasil kerja siswa, baik secara individu maupun secara berkelompok. Catatan-catatan yang dimaksudkan dapat digunakan siswa sebagai petunjuk untuk melakukan pembetulan lebih lanjut dari pekerjaan yang salah. Guru juga wajib membagikan hasil kerja siswa yang telah direvisi. Guru juga perlu memberikan ganjaran bagi siswa yang berhasil menyelesaikan pekerjaan yang baik sebagai penguatan, baik berupa penguatan verbal ataupun non verbal.
g. Prinsip Perbedaan IndividualGuru harus menyadari bahwa semua siswa-siswa mempunyai keunikan masingmasing. Implikasi prinsip perbedaan individual ini diwujudkan dalam perilakuperilaku guru diantaranya, guru harus mau dan mampu mengenali karakteristik setiap siswanya, sehingga dapat menentukan pembelajaran yang tepat bagi siswa tersebut. Guru harus berusaha melayani setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya. Dalam kegiatan pembelajaran, garu harus mampu menggunakan teknik yang bervariasi sehingga diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya. Guru harus mampu merancang dan melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan bagi siswa-siswanya.
Klik juga artikel lainnya:
Baca juga: PUISI LAMA DAN PUISI BARU
Baca juga: TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Baca juga: Video Pembelajaran Kurikulum 2013 SD/MI Kelas 1-6
Baca juga: LATIHAN POST TEST KELAS BAWAH KK A PLUS ONLINE
Baca juga: LATIHAN ONLINE PKB MODUL B BAGIAN KE-2
Baca juga: Download Latihan Post Test PKB KKA Profesional
Baca juga: DOWNLOAD PROTA REVISI KELAS 5 SD
Baca juga: Download Contoh RPP REVISI 2017
Baca juga : DOWNLOAD RPP KELAS 5 SD/MI REVISI 2017
Baca juga: CEK NUPTK
PUISI LAMA DAN PUISI BARU
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa baik struktur fisik maupun struktur batinnya. Ciri khas puisi yang paling menonjol adalah tipografinya., Seketika bila kita melihat sebuah teks yang larik-lariknya tidak sampai ke tepi halaman kita mengandaikan teks tersebut adalah puisi (Dick Hartoko, 1982: 175). Namun, demikan, untuk puisi terdapat beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru. Puisi lama sendiri dibagi menjadi beberapa jenis yang tiap-tiap jenisnya mempunyai ciri yang berbeda satu sama lain.
A. Puisi Lama
1. Pantun
Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti "petuntun".
Ciri-ciri Pantun:
- terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan)
- baris pertama dan kedua dinaman sampiran (kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan baris ketiga dan keempat dinamakan isi (tujuan dari pantun tersebut)
- setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata,
- bersajak dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).
- tidak terdapat nama penulis dikarenakan penyebaran pantun dilakukan secara lisan
Berikut contoh pantun:
asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis mayat di dalam kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Pantun sendiri masih berbagai macam jenisnya, diantaranya: pantun adat, agama, budi, jenaka, kepahlawanan, kias, nasihat, percintaan, peribahasa, perpisahan, dan teka teki.
2. Seloka (Pantun Berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait. Seloka mempunyai ciri:
- Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua;
- Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga, dan seterusnya.
- Aturan pembuatan pantunnya sama dengan aturan pantun yang sudah disebutkan sebelumnya.
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi. Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi. Jadi, apabila enam baris sajaknya
a – b – c – a – b – c. Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d.
4. Pantun Kilat (Karmina)
Karmina mempunyai ciri-ciri:
- Setiap bait terdiri dari dua baris, baris pertama merupakan sampiran. Baris kedua merupakan isi.
- Bersajak a – a.
- Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.
- Pada umumnya karmina digunakan untuk memberi sindiran secara halus.
5. Mantra
Mantra adalah puisi tua yang keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra melainkan sebagai adat dan kepercayaan. Mantra tidak memiliki aturan tertentu seperti halnya dalam pantun. Hanya pada saat itu mantra dianggap mengandung kekuatan ghaib yang diucapkan dalam waktu tertentu.
6. Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti mula-mula, amsal, atau perumpamaan.
Gurindam mempunyai ciri:
- Sajak akhir berima a – a ; b – b; c – c dst.
- Sama dengan ciri sastra lama lainnya gurindam berisinya nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatu sebab akibat.
7. Syair
Kata "syair" berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti "perasaan". Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti "puisi" dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga syair didesain sesuai dengan keadaan dan situasi yang terjadi. Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair menjadi khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan berbagai karya syair yang ditulisnya, antara lain: Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair memiliki ciri: Setiap bait terdiri atas empat baris. Setiap baris terdiri atas 8-12 suku kata. Bersajak a-a-a-a. Isi tidak semua sampiran.
B. Puisi Baru
Puisi baru adalah pembaharuan dari puisi lama yang mendapat pengaruh dari Barat. Dalam penyusunan puisi baru rima dan jumlah baris setiap bait tidak terlalu dipentingkan. Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Nama pengarang puisi baru sudah dicantumkan (Rizal, 2010:75)
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa puisi baru adalah bentuk puisi bebas yang tidak begitu terikat pada aturan penulisan seperti puisi lama. Rizal (2010:75) mengungkapkan, ciri-ciri puisi baru sebagai berikut.
- Bentuknya rapi, simetris.
- Mempunyai persajakan akhir (yang teratur).
- Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.
- Sebagian besar puisi berbentuk empat seuntai.
- Tiap-tiap barisnya terdiri atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
- Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar): 4-5 suku kata.
Balada adalah puisi berisi kisah atau cerita suatu riwayat. Balada menceritakan kehidupan orang biasa yang penuturannya didramatisasi sehingga menyentuh.
2. Himne
Himne adalah puisi yang bersifat transendental atau berisi pujian untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Pada umumnya himne berisi pujian atau keluh kesah yang ingin disampaikan kepada Tuhan.
3. Ode
Ode adalah puisi yang berisi sanjungan untuk orang, benda, atau peristiwa yang memuliakan. Biasanya, ode ditujukan kepada pahlawan atau tokoh yang berpengaruh.
4.
Epigram
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup, nilai-nilai kehidupan dan ajaran moral menjadi ciri khusus epigram ini.
5. Romance
Romance adalah puisi yang berisi tentang kisah-kisah percintaan, romance pada umumnya lahir dari pengalaman pengarang tentang kisah percintaan yang pernah dialaminya.
Elegi adalah puisi yang mengungkapkan kesedihan. Jenis puisi ini lebih ditujukan untuk ekspresi perasaan aku-lirik sehingga puisi lebih menekankan yang dirasakan aku lirik.
7. Satire
Satire adalah puisi yang berisi sindiran atau kritikan tajam terhadap keadaan masyarakat atau kehidupan sosial-budayanya. Sebenarnya tak terbatas pada puisi saja, prosa dan drama juga bisa disebut satire jika temanya melawan dan menyindir kondisi zaman.
Klik juga artikel lainnya:
Baca juga: TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Baca juga: Video Pembelajaran Kurikulum 2013 SD/MI Kelas 1-6
Baca juga: LATIHAN POST TEST KELAS BAWAH KK A PLUS ONLINE
Baca juga: LATIHAN ONLINE PKB MODUL B BAGIAN KE-2
Baca juga: Download Latihan Post Test PKB KKA Profesional
Baca juga: DOWNLOAD PROTA REVISI KELAS 5 SD
Baca juga: Download Contoh RPP REVISI 2017
Baca juga : DOWNLOAD RPP KELAS 5 SD/MI REVISI 2017
Baca juga: CEK NUPTK
Klik juga artikel lainnya:
Baca juga: TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
Baca juga: Video Pembelajaran Kurikulum 2013 SD/MI Kelas 1-6
Baca juga: LATIHAN POST TEST KELAS BAWAH KK A PLUS ONLINE
Baca juga: LATIHAN ONLINE PKB MODUL B BAGIAN KE-2
Baca juga: Download Latihan Post Test PKB KKA Profesional
Baca juga: DOWNLOAD PROTA REVISI KELAS 5 SD
Baca juga: Download Contoh RPP REVISI 2017
Baca juga : DOWNLOAD RPP KELAS 5 SD/MI REVISI 2017
Baca juga: CEK NUPTK
Saturday, 9 December 2017
TEORI-TEORI PEMBELAJARAN
1. TEORI BELAJAR ALIRAN BEHAVIORISME
a. Teori Pengkondisian Pavlov
Terkenal dengan teori Classical Conditioning atau pengkondisian klasik. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan yang diinginkan. Pavlop menjelaskan pengkondisian klasik menjadi 4 fase yaitu 1) akuisisi 2) eliminasi 3) generalisasi, dan 4) deskriminasi.
b. Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara stimulus (S) dan respon (R). Thorndike menemukan hukum-hukum belajar: 1) Hukun kesiapan (law of readiness), 2) Hukum Latihan (law of exercise), 3) Hukum Akibat (law of effect). Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teori belajar Throndike adalah agar siswa menguasai materi tertentu diawali dengan kesiapan siswa untuk belajar baik secara fisik maupun mental misalnya dengan berdo'a terlebih dahulu kemudian dismpaikan manfaat mempelajari materi tersebut.
c. Pengkondisian Operan oleh Skinner
Burrs Frederick Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behaviorisme dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant Conditioning. Manajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat.
Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah atau penghargaan. Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang. Konsekuensi yang menyenangkan menguatkan perilaku, sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan melemahkan perilaku itu. Konsekuensi yang menyenangkan dinamakan penguatan (reinforcement), sedangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan dinamakan hukuman (punishment).
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dari Skinner dapat dicontohkan agar siswa menguasai materi tertentu, guru dapat memberikan tugas pada siswa, baik tugas yang dikerjakan di kelas maupun tugas yang dikerjakan di rumah (PR).
d. Teori Pembiasaan Asosiasi Dekat Gutrie
Edwin R Gutrie adalah penemu teori pembiasaan asosiasi dekat (contigous conditioning theory). Teori ini menyatakan bahwa belajar adalah kedekatan hubungan antara stimulus dan respon. Menurut Guthrie, peningkatan hasil belajar secara berangsur-angsur dapat dicapai oleh siswa karena kedekatan asosiasi antara stimulus dan respon.
Pelaksananaan pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dari Gutrie, misalnya agar siswa menguasai materi tertentu, guru harus mencari kedekatan materi tersebut dengan sesuatu yang akan menjadi stimulus.
e. Teori Kognitif Sosial Bandura
Temuan paling penting dari penelitian ini adalah bahwa orang dapat mempelajari tindakan-tindakan baru hanya dengan mengamati bagaimana orang lain melakukannya.
Bandura menyatakan perilaku manusia terjadi dalam kerangka timbal balik tiga sisi, yaitu timbal balik antara perilaku, variabel lingkungan dan faktor personal seperti kognisi.
Bandura mengemukakan bahwa belajar dengan mengamati baik langsung maupun tidak langsung melalui empat fase, yaitu: (1) menaruh perhatian, (2) mengingat perilaku model, (3) memproduksi perilaku dan (4) termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut.
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dari Bandura adalah sebagai contoh agar siswa dapat menyelesaikan soal, guru harus memberikan contoh bagaimana menyelesaikan soal serupa.
f. Prinsip-prinsip Pembelajaran Behavioral
- Buatlah kelas aman dan nyaman.
- Jadilah terbuka dan spesifik mengenai materi yang perlu dipelajari.
- Yakinkan bahwa siswa memiliki pengetahuan dan keahlian dasar.
- Perlihatkan koneksi antar materi baru dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.
- Ketika materi baru bersifat kompleks, perkenalkan secara perlahan.
- Asosiasikan materi yang akan dipelajari dengan hal-hal yang disukai siswa.
- Katakan kepada siswa, hal-hal apa yang paling penting.
- Kenali dan pujilah kemajuan.
- Cari tahu hal-hal yang menimbulkan perasaan dihargai dan gunakan untuk menguatkan
- Untuk sebuah tugas baru atau sulit, perlu disediakan penguatan yang lebih sering.
- Berikan penguatan akan perilaku belajar yang Anda harapkan dari siswa.
- Ciptakan situasi untuk sukses.
- Contohkanlah perilaku agar siswa meniru.
- Bahan ajar disajikan dalam bagian-perbagian dan berurutan.
2. TEORI BELAJAR ALIRAN KOGNITIVISME
Menurut pandangan kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.
a. Teori Perkembangan Kognitif Piaget
Jean Piaget berpendapat bahwa proses berpikir manusia sebagai suatu perkembangan yang bertahap dari berpikir intelektual konkrit ke abstrak yang berurutan melalui empat periode.
Periode yang dikemukakan Piaget adalah 1). Periode sensori motor (0 -2 tahun), 2) Periode pra operasional (2 -7 tahun ), 3) Periode operasional konkrit (7 – 11/12 tahun), dan 4) Periode operasi formal (11/12 tahun ke atas).
Siswa SD berada pada periode operasional konkrit (7 – 11/12 tahun). Dalam periode ini anak berpikirnya sudah dikatakan operasional. Periode ini disebut operasional konkrit sebab berpikir logiknya didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek.
b. Teori Pemrosesan Informasi
Gagne mengemukakan teori belajar yang dikenal dengan
teori pemrosesan informasi. Teori ini pada dasarnya untuk menjelaskan fenomena
belajar. Proses yang terjadi seperti cara kerja komputer, yang dimualai dari
masukan (input) kemudian proses (procces) dan keluaran (output).
Pelaksananaan
pembelajaran dengan menggunakan teori pemrosesan informasi yaitu guru harus
berusaha agar bahan pelajaran yang ditangkap siswa pada saat pembelajaran dapat
maksimal.
c. Teori Bruner
Jerome Bruner berpendapat bahwa belajar ialah memahami
konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam materi yang dipelajari
serta mencari hubungan-hubungan
antara konsep-konsep dan struktur-struktur tersebut.
Bruner menggambarkan anak-anak
berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental yang tidak dikaitkan dengan
usia siswa, yaitu:
- Enactive. Dalam tahap ini anak-anak di dalam belajarnya menggunakan/memanipulasi objek-obek secara langsung.
- Ikonic. Tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek. Dalam tahap ini, anak tidak memanipulasi langsung objek-objek seperti dalam enactive, melainkan sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari objek.
- Symbolic. Tahap terakhir ini, menurut Bruner merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan objek-objek.
D.P. Ausubel mengemukakan bahwa belajar dikatakan
menjadi bermakna (meaningful) bila
informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif
yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengaitkan informasi barunya dengan
struktur kognitif yang dimilikinya.
Ausubel mengidentifikasi empat kemungkinan tipe belajar :
- belajar dengan penemuan yang bermakna
- belajar dengan ceramah yang bermakna,
- belajar penemuan yang tidak bermakna,
- belajar dengan ceramah yang tidak bermakna
Dienes
mengembangkan teorinya, agar matematika menjadi lebih menarik dan lebih mudah
dipelajari.
Dienes
berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara
sempurna hanya jika pertama-tama disajikan kepada siswa dalam bentuk-bentuk
konkrit.
Terdapat enam tahap yang beruntun dalam belajar
matematika yaitu 1) permainan bebas (free
play), 2) permainan yang menggunakan aturan (games), 3) permainan mencari kesamaan sifat (searching for comunalities), 4) permainan dengan representasi (representation), 5) permainan dengan
simbulisasi (simbolization), 6)
formalisasi (formalization).
f. Teori
Belajar Van Hiele
Menurut
Van Hiele ada tiga unsur utama dalam pembelajaran Geometri, yaitu waktu, materi pembelajaran, dan metode
pembelajaran yang diterapkan.
Adapun tahapan-tahapan belajar Geometri menurut Van
Hiele ada lima tahapan, yaitu tahap pengenalan bentuk suatu bangun geometri,
analisis sifat-sifat dari bangun geometri, pengurutan bangun-bangun geometri
yang satu dengan lainnya saling berhubungan, deduksi, dan akurasi/rigor (Karso,
dkk, 2013).
Pelaksananaan
pembelajaran dengan menggunakan teori van Hiele, yaitu setiap konsep geometri
harus dimulai dari tahap pengenalan.
g. Teori Belajar Brownell dan Van Engen
Menurut
William Brownell (1935) bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu
proses yang bermakna dan pengertian.
Teori
makna memandang bahwa matematika sebagai suatu sistem dan konsep- konsep,
prinsip-prinsip dan proses-proses yang dapat dimengerti.
h. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kognitif
Implikasi teori
perkembangan kognitif Piaget bagi pembelajaran antara lain:
1. Pahami perkembangan kognitif
anak dan sesuaikan bahan ajar menurut tingkat perkembangannya.
2. Jagalah agar siswa tetap aktif
selama pembelajaran.
3. Ciptakan ketidak sesuaian agar
siswa terangsang untuk berpikir kritis.
4. Ciptakan interaksi sosial yang memadai.
Implikasi dari
teori pemrosesan imformasi:
- Perhatian para siswa dapat diraih dan dipertahankan lebih lama dengan menggunakan saluran sensorik dan memberikan variasi dalam penggunaannya.
- Waktu yang tepat untuk menjaga perhatian adalah ketika siswa sedang waspada.
- Untuk mengatasi kapasitas yang terbatas dari ingatan jangka pendek, informasi baru dapat diorganisasi dan dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya
- Pengulangan berkali-kali terhadap informasi baru dapat memindahkan informasi ke dalam ingatan jangka panjang.
- Untuk memanggil kembali informasi dalam ingatan jangka panjang dapat dilakukan dengan menghubungkan dengan informasi yang sudah diketahui pada saat itu
- Siswa harus membuat hubungan informasi baru dengan yang sudah dimiliki
- Informasi baru harus disajikan secara logik untuk disampaikan kepada siswa
- Siswa akan melupakan informasi
- Siswa harus berinteraksi dengan guru dan didorong untuk bertanya
- Ketika siswa menemukan sesuatu atas usaha sendiri, mereka akan belajar lebih baik.
- Para siswa perlu belajar mengenai cara belajar
- Tujuan terpenting dalam pembelajaran adalah membantu siswa menjadi pemecah masalah yang lebih baik.
Konstruktivisme didasarkan pada pernyataan bahwa kita semua membangun pengetahuan kita sendiri dari lingkungan untuk memperoleh pengalaman dan skema.
Menurut teori ini bahwa dalam proses pembelajaran, siswa yang harus mendapatkan penekanan.
Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pengajar atau orang lain.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi belajar berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian direnungkan lalu dijadikan ide dan pengembangan konsep baru.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran
konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata
dalam konteks yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan
pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam
upaya mengkonstruksi pengalaman.
a. Konsep Belajar Konstruktivisme Jean
Piaget
Menurut
Piaget, struktur kognitif yang dimiliki seseorang itu karena proses asimilasi
dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan
pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah
dimiliki seseorang.
Akomodasi adalah proses penstrukturan kembali struktur
mental akibat adanya informasi dan pengalaman baru.
Jadi
menurut Piaget, belajar itu tidak hanya menerima informasi dan pengalaman baru
saja, tetapi juga penstrukturan kembali informasi dan pengalaman yang baru.
Pada
penerapan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme, guru disarankan memulai
pembelajaran dari apa yang menurut siswa hal yang biasa, hal yang sudah
diketahui oleh siswa. Selanjutnya, perlu diupayakan terjadinya situasi konflik
pada struktur
kognitif siswa.
b. Konsep Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Vygotsky lebih mementingkan bahwa belajar menekankan
interaksi dengan orang lain. Vygotsky berpendapat perkembangan kognitif
terbatas dalam rentang kecil pada setiap usia dan interaksi sosial dengan
orang-orang yang lebih berpengalaman diperlukan untuk menemukan “zona
perkembangan terdekat” yang dikenal dengan ZPD (Zone of Proximal Development).
Teori Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama.
Pertama, perkembangan intelektual dapat dipahami hanya dari sudut konteks
historis dan budaya yang dialami anak-anak. Kedua, perkembangan bergantung pada
sistem tanda yang ada bersama masing-masing orang ketika mereka tumbuh. Teory
Vygotky dikenal dengan teori perkembangan sosiokultural.
Tingkatan pengetahuan
atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti
memberikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan secara bertahap
selama tahap- tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut
dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut
mengambil alih tanggung jawab yang
semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri.
Sumbangan
penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran
sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek
internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan
sosial pembelajaran.
Penerapan
teori Vygotsky sangat mendukung pengembangan pendidikan kewarganegaan sekaligus
untuk mengembangkan kehidupan yang demokratis. Menuruc Udin S Winataputra
(2007), warga negara yang demokratis tidak dilahirkan, melainkan diciptakan
dalam proses sosialisasi.
c. Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme
Prinsip-prinsip pembelajaran sebagai implikasi dari teori
konstruktivis dari Piaget adalah:
- Dalam proses pembentukan pengetahuan, kebermaknaan merupakan interpretasi individual siswa terhadap pengalaman yang dialaminya (Meaning as internally constructed).
- Pembentukan makna merupakan proses negosiasi antara individual siswa dengan pengalamannya (Learning and teaching as negotiated construction of meaning)
- Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pengajar kepada pembelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pembelajar membangun sendiri pengetahuannya.
- Mengajar berarti berpartisipasi dengan pembelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan mengadakan justifikasi
- Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep masing-masing individual siswa.
- Struktur konsep dapat membentuk pengetahuan, bila konsep baru yang diterima dapat dikaitkan/dihubungkan (proposisi) dengan pengalaman yang dimiliki siswa.
- Interaksi sosial itu penting, pengetahuan dibangun dengan melibatkan orang lain akan menjadi lebih baik.
- Perkembangan manusia terjadi melalui alat-alat cultural (bahasa, simbol) yang diteruskan dari orang ke orang.
- Zona perkembangan proksimal adalah perbedaan antara apa yang dapat dilakukan sendiri (kemampuan actual) dan apa yang dapat dilakukan dengan bantuan orang yang lebih dewasa (kemampuan potensial).
4. TEORI BELAJAR ALIRAN HUMANISME
Humanisme
memandang bahwa belajar adalah usaha untuk memanusiakan manusia.
Tujuan
utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai
manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi- potensi yang ada dalam
diri mereka.
a. Teori dari Arthur Combs
Belajar
terjadi bila mempunyai arti bagi individu.
Combs
berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa
mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana
mestinya Sehingga
yang penting adalah bagaimana membawa siswa untuk memperoleh arti/makna bagi
pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan
kehidupannya.
b. Teori dari Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri
individu ada dua hal, yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan
kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Hirarki kebutuhan Maslow, sebagai berikut: 1) kebutuhan
fisik, 2) kebutuhan akan rasa aman dan tenteram (Safety Needs), 3)
kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (Belongingness
Needs), 4) kebutuhan harga diri secara
penuh ( Esteem Needs), 5) butuhan Aktualisasi Diri ( Self Actualization Needs).
c. Teori dari Carl Rogers
Carl
Rogers (dalam Suranto, 2015) membedakan dua tipe belajar, yaitu: Kognitif
(kebermaknaan) dan experiential (
pengalaman atau signifikansi).
Experiential
Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan
keinginan siswa. Kualitas belajar experiential
learning mencakup: keterlibatan siswa secara
personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang
membekas pada siswa.
Menurut Rogers (2002) yang terpenting dalam proses
pembelajaran adalah guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran,
yaitu:
- Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
- Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
- Pengorganisasian bahan pembelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
- Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Ciri- ciri guru yang fasilitatif adalah merespon perasaan siswa,
menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang,
berdialog dan berdiskusi dengan siswa,
menghargai siswa, kesesuaian antara perilaku dan perbuatan, menyesuaikan isi
kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari
siswa), tersenyum pada siswa.
d. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Humanistik
Prinsip pembelajaran humanistik sebagai berikut:
- Pembelajaran hendaknya berfokus pada upaya untuk memahami cara manusia menciptakan perasaan, sikap dan nilai-nilai.
- Pembelajaran hendaknya bertemakan upaya untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama aspek afektif seperti emosi, perasaan, sikap, nilai dan moral.
- Pembelajaran hendaknya menumbuhkan harga diri dan keyakinan.
- Pembelajaran hendaknya berfokus pada kebutuhan dan minat siswa.
- Sekolah harus menyesuaikan diri menurut kebutuhan anak, bukan anak yang menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
- Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
- Guru sebagai fasilitator hendaknya membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
- Guru harus mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
- Guru mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
- Guru menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
- Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelas, guru mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok.
- Guru harus mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
- Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, guru harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Klik juga artikel lainnya:
Baca juga: LATIHAN POST TEST KELAS BAWAH KK A PLUS ONLINE
Baca juga: LATIHAN ONLINE PKB MODUL B BAGIAN KE-2
Baca juga: Download Latihan Post Test PKB KKA Profesional
Baca juga: DOWNLOAD PROTA REVISI KELAS 5 SD
Baca juga: Download Contoh RPP REVISI 2017
Baca juga : DOWNLOAD RPP KELAS 5 SD/MI REVISI 2017
Baca juga: CEK NUPTK
Subscribe to:
Posts (Atom)